berserri

berserri

Jumat, 17 November 2017

Kepala Rutan Wates Memandu Senam Pagi

Wates- Jumat, 17 September 2017 ada yang berbeda di kegiatan senam pagi yang rutin dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan Rutan Kelas IIB Wates. Dalam senam pagi tersebut, yang menjadi pemandu senam tak lain tak bukan adalah Kepala Rutan Wates, yaitu Teguh Suroso. Senam ini tak hanya diikuti oleh Warga Binaan saja, namun juga seluruh petugas di Rutan Wates.
Kepala Rutan Wates Memandu Senam Pagi
Diiringi musik Poco-Poco, terlihat seluruh WBP dan pegawai mengikuti senam dengan semangat. Gerakan demi gerakan pun dilakukan mengikuti arahan dari Kepala Rutan. Meski tak sedikit yang masih kaku untuk mengikutinya, namun senam pagi ini terasa lebih meriah serta bergairah.


Pegawai dan WBP mengikuti senam pagi
Senam ini bertujuan selain untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh juga merupakan salah satu program pembinaan di Rutan Wates. Diharapkan dengan senam ini terjalin kebersamaan baik anatar WBP satu dengan yang lain dan tentu juga antara WBP dengan Petugas di Rutan Wates.

Semangat dan tetap jaga kebersamaan
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Teguh Suroso selaku Kepala Rutan. "Dengan kegiatan senam seperti ini, diharapkan kebugaran dan kesehatan WBP serta petugas tetap terjaga. Yang paling penting adalah adanya rasa kebersamaan baik antara sesama WBP maupun antara WBP dengan Petugas. Kebersamaan penting untuk menjaga kekondusifan Rutan," ucapnya.

Senam bersama dengan Warga Binaan
Berikut ini adalah video pelaksanaan senam di Rutan Wates:

 
Semoga kegiatan seperti ini dapat dicontoh oleh Rumah Tahanan maupun Lembaga Pemasyarakatn lain untuk menjalin kebersamaan dengan Warga Binaan yang berada di dalamnya.

Red: Dhedi R Ghazali


Jumat, 10 November 2017

Pegawai Rutan Mengikuti Upacara Hari Pahlawan di Alun-alun Wates

Wates- Kepala Rumah Tahanan Kelas IIB Wates bersama dengan jajaran pegawai di Rutan Wates mengikuti Upacara Peringatan Hari Pahlawan di Alun-Alun Wates. Upacara berlangsung mulai pukul 08.30 dengan Inspektur upacara Bapak Bupati Kulon Progo. Dalam amanatnya, Bupati Kulon Progo membacakan pidato dari Menteri Sosial Republik Indonesia.
Pegawai Rutan Wates Mengikuti Upacara



Kepala Rutan Wates, Tegus Suroso menjelaskan bahwa selain karena permintaan dari Pemerintah Daerah Kulon Progo, pengiriman satu peleton pegawai Rutan juga bertujuan sebagai sarana untuk menciptakan jiwa Nasionalisme para pegawai. 

Teguh Suroso(Baju Biru) bersama tamu undangan lainnya

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Tegus Suroso, "Dengan mengikuti upacara Hari Pahlawan, diharapkan para pegawai mampu memetik hikmah serta mengikuti jiwa nsionalisme para pahlawan bangsa yang gugur demi kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya dalam hal pekerjaan saja,namun juga dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat."

Dalam upacara ini juga dibacakan pesan dari para Pahlawan bangsa. Pesan-pesan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagai seluruh lapisa masyarakat untuk senantiasa memperkuat jiwa nasionalisme. Dengan jiwa nasionalisme yang kuat, maka keutuhan dan kemajuan bangsa Indonesia akan terjaga.

Setelah upacara selesai, Kepala Rutan Wates bersama tamu undangan lainnya bergegas ke Makam Pahlawan Nyi Ageng Serang yang merupakan Pahlawan asli dari Kulon Progo. Ziarah kubur ini selain untuk mengenang jasa-jasa, juga sebagai bentuk penjagaan atas kearfian lokal. Setiap tahun tepat di Hari Pahlawan, ziarah kuibur ini selalu dilaksanakan.

Tegus Suroso(Kiri) ziarah kubur bersama Pejabat Kulon Progo
Di tempat terpisah, yaitu di dalam aula Rumah Tahanan Kelas IIB Wates, seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan juga melakukan upacara bendera peringatan Hari Pahlawan. Seluruh petugas upacara adalah WBP Rutan Wates, sedng selaku inspektur upacara adalah Kepala Pelayanan Tahanan, Aris Yuylianta. Upacara berlangsung dengan tertib dan hikmah. Di Rutan Wates sendiri, Upacara Bendera rutin dilakukan oleh WBP setiap hari Senin. Hal ini bertujuan untuk mendidik WBP agar menjadi warga masyarakat yang taat kepada NKRI serta mendidik jiwa nasinalisme.

WBP Rutan Wates Upacara Bendera
Hari Pahlawan adalah hari bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Jasa-jasa para pahwalan Bangsa ini tidak boleh begitu saja dilupakan. Tanpa mereka, kemerdekaan tidak bisa diraih, tanpa pengorbanan mereka, Indonesia tidak akan pernah seperti sekarang. Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Pahlawan bukan sekedar sebagai kegiatan simbolis belaka, namun juga harus benar-benar menyadarkan masyarakat akan pentingnya menanamkan nilai-nila kepahlawanan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Red: Dhedi R Ghazali

Senin, 30 Oktober 2017

Unik, Rutan Wates Mengadakan Upacara dengan Pakaian Adat






Wates- Apa yang ada di pikiran pembaca ketika mendengar kata penjara? Barangkali bulu roma akan merinding karena membayangkan penjara yang suasananya angker dan dekat dengan kekerasan. Barangkali pula yang terlintas adalah Narapidana yang kabur atau peredaran Narkoba dari dalam jeruji besi. Ternyata anggapan seperti itu adalah salah besar.

Di salah satu Rumah Tahanan Negara(Rutan) di Wilayah Kementerian Hukum dan Ham DIY, tepatnya di Rutan Wates, ada hal unik nan inspiratif yang tak biasa. Dalam rangka upacara bendera menyambut Hari Dharma Karya Dhika, Rutan Wates mengadakan upacara yang lain daripada lainnya. Sesuai dengan amanat dari Menteri Hukum dan HAM, seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Hukum dan Ham RI diperintahkan untuk melaksanakan upacara dengan menggunakan pakaian adat. Adapun pakaian adat yang digunakan oleh jajaran pegawai Rutan Wates adalah pakaian adat Jawa. Pegawai perempuan menggunakan kebaya sedangkan pegawai lelaki menggunakan pakaian surjan lengkap dengan keris di punggung dan blangkon di kepala. Berbeda dengan yang lain, sebagai wujud dari keberagaman dan kebhinekaan, Teguh Suroso selaku Kepala Rutan Wates mengenakan pakaian adat Dayak warna merah yang unik dan menawan.

 


Teguh Suroso, selaku Kepala Rutan Wates dalam sambutannya mengungkapkan bahwa peringatan hari Dharma Karyadhika tahun ini bertema “Kerja Sama, Kami Pasti Melayani” yang disimbolkan Kepala Kuda.

“Tahun lalu simbol kita Bumbble Bee itu artinya lebah yang memiliki makna kecerdasan. Tahun ini kenapa kita pilih Kepala Kuda karena mencerminkan kerja keras dan kerja cepat, itu menjadi pedoman bagi seluruh pegawai untuk bekerja melayani masyarakat,” ungkap Teguh Suroso di Rutan Wates(30/10/17).

Dalam acara tersebut, juga diberikan Penghargaan dari Kementerian Hukum dan HAM RI kepada dua pegawai atas nama Rusyanto dan Mukalim karena telah mengabdi kepada Rutan Wates hingga habis masa kerjanya. Penghargaan itu adalah bentuk apresiasi atas pengabdian selama berpuluh-puluh tahun kepada Kementerian Hukum dan HAM.

 



Lembaga Pemasyarakatan Diminta Aktif Membaca dan Menulis

Dalam sambutan dari Menteri Hukum dan HAM RI yang dibacakan oleh Kepala Rutan, diungkapkan bahwa pada momen peringatan Hari Dharma Karyadhika ini juga menjalin kerjasama melalui penandatanganan MoU dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Kompas Gramedia, PT POS Indonesia, Pustaka Bergerak, dan Forum Lingkar Pena.

 

Implementasi dari MoU yang dilakukan oleh pihak Kemenkumham dengan Perpustakaan Nasional berupa adanya fasilitas pojok baca yang harus dimiliki oleh masing Lapas dan Rutan yang disediakan bagi warga binaan dan tahanan di seluruh Indonesia.

Menanggapi hal itu, Teguh Suroso mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebuah amanah yang baik yang perlu lekas direalisasikan. Dengan adanya ruang baca, Warga Binaan dapat menyalurkan aspirasinya lewat membaca sekaligus menulis apa saja yang dirasakan selama di dalam Rutan Wates. Dengan begitu, program pembinaan kemandirian juga akan bisa berjalan dengan baik dan lebih maksimal.


Meningkatkan Semangat Kebhinekaan



Upacara dengan menggunakan baju adat adalah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan rasa Kebhinekaan yang akhir-akhir ini sedang menurun. Dengan adanya rasa saling menghargai perbedaan, diharapkan mampu menciptakan toleransi di tengah perbedaan suku, adat, ras, budaya dan agama. Semoga hal seperti ini dapat dicontoh oleh Kementerian ataupun Lembaga Pemerintahan lain demi menjaga toleransi dan keutuhan Kebhinekaan dalam pelukan NKRI.


Red. Dhedi R Ghazali